HMPS MANAJEMEN DAKWAH UIN SALATIGA
Salatiga,- Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga dakwah Islam yang memiliki fungsi sebagai lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan. Karena itu lembaga pondok pesantren dianggap sebagai sarana untuk mempelajari, memahami, dan mengembangkan ajaran Islam agar terus berkembang mengikuti zaman.
Pondok pesantren Al Ihsanul Amin mulai dibangun pada tahun 1993. Pondok ini mulanya hanya berupa sebuah bangunan mushola kecil yang kemudian dikembangkan lagi hingga menjadi pondok pesantren. Untuk visi dan misi dari pondok Al Ihsanul Amin sendiri terinspirasi dari realitas sosial yang dimana saat ini banyak generasi muda yang kehilangan akhlak dan moral islam. “Saya melihat beberapa anak muda sekarang yang berjalan didepan orang yang lebih tua tidak ada amit-amit atau sopan santun. Banyak juga sekarang ini anak-anak muda berpacaran sampai melupakan batasan sehingga melupakan syariat”. Ungkap bapak Fauzi Al Hidayat selaku pengasuh Pondok Alihsanul Amin. Jadi untuk visi misi pondok pessantren Al Ihsanul Amin lebih menekankan kepada memperbaiki dan mempraktekkan akhlakul karimah dengan berpedoman kitab-kitab yang telah diajarkan.
Bapak Fauzi mengungkapkan untuk metode pengajaran yang dipakai di pondok ini adalah metode bandongan dan sorogan. “Saya pakainya tidak perkelas, tapi saya pakai metode bandongan dan sorogan. Untuk kitab saya global, jadi ketika ada anak baru langsung menyesuaikan karena kitab yang saya baca, kalau sudah khatam muter seperti itu terus kalau bosan nambah kitab bukan ganti kitab”. “jadi biasanya saya ngaji kitab itu jam 20.00-22.00 untuk selasa, jum’at, ahad pagi itu ada sorogan” Susul beliau.
Dalam mendidik para santrinya beliau pun menghadapi banyak hambatan. “Jelas ada hambatan, misalnya satu kebiasaan jelek anak-anak tidur pagi, tanpa dilatih itu otomatis terjadi, bahkan santri barupun tanpa di ospec itu sudah bisa tidur pagi, padahal sebelumnya belum punya kebiasaan itu. Tapi liat temannya yang tidur pagi gampang banget nularnya. Beda lagi kalau perihal solat tahajud itu sulit nularnya. Karena untuk membiasakan diri lebih baik itu lebih susah”. “jadi antara teori, praktek dipondok, dan nanti ketika keluar pondok itu para santri akan dapat merepresentasikan teori kitab nya itu hambatan yang saya khawatirkan” ujar bapak Fauzi.
Bapak pengasuh mengungkapkan terkait evaluasi keberhasilan bagi para santri yakni akhlaknya ketika nanti selesai mondok. “Jangka jauh saya untuk evaluasi keberhasilan adalah akhlak anak-anak ketika nanti selesai mondok. Biasanya saya pesan ketika mereka mau boyong karena sudah selesai wisuda, simakan satu juz, biasanya saya bilang “jangan sampai anda lupa kalau anda santri, jangan sampai lupa amalan yang yang sudah dilakukan di pondok, zikirannya, nderesnya, tahajudnya jangan sampai lupa. Terus satu lagi jangan sampai terputus silaturahim kepada guru, karena dengan silaturahim yang terjaga dengan guru akan terus menetes barokahnya”.
Komentar
Posting Komentar